Selamat Datang di Little Care!
Terima kasih atas perhatian Anda terhadap kegiatan Little Care .


Kerena kondisi Indonesia yang terpuruk oleh krisis ekonomi-sosial, maka kami perduli dan mendirikan Yayasan sosial Little Care . Akibat dari krisis tersebut, ratusan ribu anak berserta keluarga mereka tidak lagi memiliki fasilitas dasar untuk mengembangkan diri mereka secara layak.

Maka dari itu, Little Care berkonsentrasi terhadap tiga hal, yaitu : efek dari Krisis Ekonomi yang masih berlanjut, Pendidikan dan Kesehatan .


1. Krisis Ekonomi
Masa pengembangan yang cepat dari ekonomi negara Indonesia tiba-tiba berakhir pada tahun 1997 sebagai akibat dari krisis ekonomi yang hebat, yang melanda seluruh wilayah Asia. Diluar dugaan, krisis multi-dimensional yang terjadi memicu kelengseran Presiden Soeharto, mengakhiri masa kuasanya selama 32 tahun.

Krisis ekonomi diawali oleh krisis moneter pada tahun 1997, yang mengakibatkan ekonomi Indonesia kolaps. Pada tahun 1998 inflasi telah mencapai angka diatas 80%. Nilai tukar Rupiah terhadap valuta-valuta asing melonjak, sehingga sekian banyak perusahaan yang pernah mendapatkan kredit dalam dolar Amerika atau valuta asing lain sangat dirugikan. Ratusan perusahaan di Indonesia bankrut dan terpaksa mem-PHK-kan ratusan ribu karyawan.


Nasib masyarakat kota yang tidak mampu sangat memprihatinkan. Kami menyaksikan jumlah anak jalanan meningkat tajam. Jumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang bermunculan di pinggir jalan meningkat tajam juga. Ribuan siswa dan siswi, baik di wilayah perkotaan maupun di daerah perdesaan, putus sekolah. Orang tua mereka tidak mampu lagi membiayai uang sekolah.

Pemerintahan baru yang dipilih oleh masyarakat mulai bekerja, dan tiba-tiba Indonesia secara resmi menjadi negara demokratis. Akan tetapi, perubahan dari sistem diktatorial ke sistem demokratis tidak mungkin tercapai dalam waktu yang singkat. Jumlah persoalan yang dipikul oleh masyarakat Indonesia adalah sangat banyak dan sangat berat, antara lain :

  • Pemerintah baru telah mulai memberantas korupsi, tetapi korupsi masih merajalela, dan belum ada indikasi bahwa akan ada perubahan dalam waktu dekat,
  • tingkat pengangguran masih sangat tinggi, sedangkan sampai saat ini belum terlihat adanya sistem jaminan sosial yang efektif untuk kebanyakan masyarakat di Indonesia,
  • standar gaji untuk Pegawai Negeri Sipil, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan dan kepolisian, masih sangat rendah,
  • terjadinya beberapa bencana alam, termasuk tsunami yang dahsyat akibat gempa bumi yang berpusat di Sumatera Utara, yang diikuti oleh serangkaian gempa bumi dan gunung berapi meletus, tanah longsor dan banjir,
  • munculnya wabah penyakit yang menyerang masyarakat miskin, termasuk busung lapar pada balita yang terjadi di beberapa daerah tersebar di Indonesia.

2. Kondisi Pendidikan di Tanah Air
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara di dunia dengan anggaran per capita untuk pendidikan yang sangat kecil. Menurut suatu surat khabar harian di ibu kota, dilaporkan bahwa pemerintah pusat hanya menganggarkan rata-rata Rp 20.000 per siswa/siswi per tahun. Angka ini jauh dari kebutuhan, dan mengakibatkan sistem pendidikan di Indonesia terpuruk.

Minimnya anggaran pendidikan tersebut mengakibatkan beberapa masalah yang sangat serius. Secara singkat kami hanya sebutkan masalah kualitas pendidikan yang rendah, pola pendidikan yang kurang pas pada era globalisasi ini, pendidikan guru yang kurang maju, dan sedikitnya gaji yang diterima oleh para guru. Hal ini secara otomatis akan memaksa para guru untuk mencari penghasilan tambahan, dan konsentrasi pada kegiatan mengajar berkurang. Juga jumlah guru yang ada dan jumlah sekolah SMA masih kurang, khususnya di daerah terpencil.

Oleh karena itu juga, sekolah-sekolah di seluruh negara Indonesia telah menetapkan berbagai biaya yang harus dibayar oleh orang tua, termasuk biaya pendaftaran, biaya ujian, biaya pemeliharaan sekolah, serta biaya SPP. Terdapat pula peraturan-peraturan untuk pembelian seragam dan buku tulis melalui sekolah yang bersangkutan.


Seperti disebut diatas, banyak siswa/siwi 'drop-out' atau putus sekolah untuk mencari pekerjaan karena orang tua mereka tidak mampu lagi membayar uang sekolah. Dari mereka yang mampu menyelesaikan sekolah hingga tamat SD, masih banyak anak yang kurang lancar untuk membaca dan menulis, khususnya yang berada di pelosok-pelosok daerah.



 



3. Kondisi Pelayanan Kesehatan
Masalah pelayanan kesehatan di Indonesia tidak kalah dengan masalah pendidikan, khususnya untuk masyarakat kecil. Diluar kota-kota besar terjadi banyak kekurangan (doktor dan perawat).

Even with Indonesia's network of health clinics (Puskesmas) in all villages, and health posts (Posyandu) in all sub-villages (dusun), many Indonesians find it hard to access health services. Many Puskesmas in remote locations are locked and empty, as there are no doctors or nurses. Numerous Posyandu in these areas also do not function, because there is no visiting nurse or midwife.

Walaupun Indonesia memiliki jaringan Puskesmas di semua desa, serta Posyandu pada semua dusun, namun banyak masyarakat Indonesia mendapat kesulitan untuk mengakses pelayanan kesehatan. Banyak Puskesmas di daerah terpencil berada dalam kondisi terkunci dan kosong, karena tidak ada dokter maupun perawat. Banyak Posyandu disana juga tidak berfungsi karena tidak dikunjungi perawat maupun bidan.

Sistem pelayanan kesehatan untuk semua masyarakat, seperti yang terdapat di negara-negara maju, belum tersedia di Indonesia. Akibatnya, banyak pasien, khususnya pasien yang miskin, harus memikul semua biaya pengobatan. Seringkali dokter akan langsung bertanya kepada pasien, apakah dia mampu membayar ongkos perawatan. Bila jawabannya "tidak", maka dia tidak bisa dilayani. Masyarakat yang paling miskin hanya mampu memakai jasa dukun.

Di Indonesia dari setiap 100.000 ibu yang melahirkan, sekitar 300 ibu-ibu meninggal akibat komplikasi selagi atau sesudah melahirkan. Padahal di beberapa negara dengan kondisi ekonomi serupa, angka tersebut disana hanya mencapai 30 atau 60an per 100.000 ibu yang melahirkan. 


Pada halaman-halaman berikut, Anda dapat membaca tentang kepedulian kami dan kegiatan-kegiatan yang telah kami laksanakan. Apabila Anda tertarik dengan kegiatan Little Care, kami menunggu partisipasi Anda, baik dari segi meteri, maupun tenaga relawan/relawati.